English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Sunnah-Sunnah Dalam Berdo'a



  1. Memastikan bahwa diri kita dalam keadaan bersih
  2. Dalam keadaan berwudhu
  3. Menghadap qiblat
  4. Melakukan suatu perbuatan baik sebelum berdoa’a , misalnya memberi sedekah, mengerjakan shalat, atau berdzikir.
  5. Duduk diantara posisi tasyuhud
  6. Mengangkat kedua tangan dengan sedikit jarak di antara keduanya
  7. Memulai berdoa dengan mengagungkan Allah SWT dan memuji-Nya
  8. Membaca Shalawat
  9. Memusatkan pikiran dan hati semata-mata hanya kepada Allah SWT, dan mempunyai  keyakinan yang benar bahwa hanya Allah SWT yang mampu mengabulkan do’anya.
  10. Meminta dan memohon dengan sangat kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan kerendahan hati
  11. Ketika berdo’a kata-kata dan sikap tubuh sebaiknya dipergunakn sedemikian rupa yang memperlihatkan kerendahan hati yang sepenuhnya, ketidak berdayaan atau keshalihan. Suara juga sebaiknya dilembutkan
  12. Tidak memandang kearah langit
  13. Tidak meniru suatu irama nyanyian atau bahasa puisi
  14. Memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa melalui wasilah dari Nabi-Nabi dan Para Wali Allah SWT, misalnya : “Ya Allah melalui wasilah Nabi kami SAW, terimalah do’a kami.”
  15. Mengakui dosa-dosa kita (harus diperhatikan bahwa kita tidak menyebut-nyebut dosa kita secara khusus apabila berdo’a dengan berjamaah. Akan tetapi, kita dapat berkata secara umum, misalnya : “Ya Allah ampunilah semua dosa-dosa kami yang besar maupun yang kecil.” Dan sebagainya. Akan tetapi bila berdo’a seorang diri kita dapat mengingat kembali dosa-dosa kita yang telah lalu dan kemudian memohon pengampunan Allah SWT. Bagi setiap dosa-dosa kita secara khusus.
  16. Berdo’a dari dasar hati dengan kesadaran yang sangat kuat dan keyakinan yang teguh bahwa Allah SWT. Akan menerima do’a kita.
  17. Kita dapat mengulangi setiap do’a setidaknya tiga kali
  18. Menangis ketika berdo’a , dan jika tidak dapat menangis, maka sebaiknya berusaha menirukan perbuatan menangis.
  19. Tidak berdo’a untuk sesuatu yang tidak mungkin.
  20. Apabila mendoakan orang lain, sebaiknya berdo’a untuk diri sendiri dulu, baru kemudian untuk orang lain.
  21. Mempergunakan kata-kata do’a yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits.
  22. Mengharap hanya kepada Allah SWT, dalam segala keperluan, baik yang besar maupun yang kecil bahkan walaupun membutuhkan sesuatu yang paling kecil, misalnya tali sepatu.
  23. Jika seorang imam berdo’a, maka do’a sebaiknya dibuat jamak (yakni dengan menggunakan kata “kami” misalnya : “Ya Allah” ampunilah dosa saya!”).
  24. Sebelum menutup do’a, kembali kita mengagungkan dan memuji Allah SWT.
  25. Membaca Shalawat, dan lalu
  26. Mengucapkan “aamiin”
  27. Terakhir, usapkan kedua tangan kewajah kita. 

Sumber : Sunnah Sehari 24 Jam

Sunnah Mandi



Mandi janabah adalah mandi secara ritual yang bertujuan untuk thaharah, dalam hal ini mengangkat hadats besar. Mandi wajib mensyaratkan niat, untuk membedakan dengan mandi biasa. Dan ketentuannya hanya sampai batas meratakan air ke seluruh tubuh.

Sebagian kalangan sering menyebut mansi janabah ini dengan istilah mandi wajib. Mandi ini merupakan tatacara/ritual yang bersifat ta'abbudi dan bertujuan menghilangkan hadats besar.
  1. kita harus segera mandi jika terbangun dari tidur setelah Shubuh sadiq, agar shalat Shubuh dapat dikerjakan secara berjama'ah. Adalah suatu kesalahan besar untuk menunda mandi janabat hingga matahari terbit, karena malaikat rahmat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada orang (pria atau wanita) yang menunda mandi wajibnya. (Hr. Tirmidzi - Misykat

    Cara mengerjakan Mandi Menurut Sunnah 

  2. Pertama, kedua tangan hingga kepergelangan dicuci tiga kali, dengan niat membersihkan diri dari najis. Kemudian najis yang terdapat di bagian tubuh manapun harus dicuci bersih, walaupun kita tidak dalam  keadaan junub, dubur, dan qubul harus dicuci bersih walaupun tidak buang air. kemudian berwudhu sesuai dengan cara sunnah. Akantetapi kaki dicuci nanti setelah mandi, kemudian air dikuncurkan ke atas kepala, bahu kanan dan kiri masing-masing tiga kali. Kita harus memastikan bahwa air mengenai seluruh dan setiap bagian tubuh, termasuk mulut dan hidung. (Hr. Tirmidzi)

  3. Apakah tubuh kita dilap kering (dikeringkan) ataukah tidak, keduanya adalah sunnah, yang manapun yang dikerjakan dapat dilakukan dengan niat mengamalkan sunnah.(Misykat) Catatan : untuk wanita yang rambutnya dikepang, boleh saja ia tidak melepaskan kepangan rambutnya. tetapi ia wajib membasahi dasar dari setiap dan seluruh rambutnya. Apabila ia tidak dapat melakukannya, maka mandinya tidak sah. Jika ada sehelai rambutnya tidak dibasahi (tetap kering), maka mandinya itu tidak sah. Lelaki yang memanjangkan rambutnya dan mengepangnya, tidak boleh membiarkan rambut kepalanya tetap kering. bagi wanita yang tidak dapat membasahi dasar kepangan rambutnya, maka perlu baginya untuk membuka kepangan rambutnya itu dan mencuci seluruh rambuntya. 

  4. Dianjurkan untuk membersihkan seluruh tubuh dengan menggosoknya. Seluruh bagian tubuh dengan menggosoknya. Seluruh bagian tubuh harus digosok dengan tangan untuk memastikan bahwa air mencapai seluruh bagian tubuh.

  5. Cincin, anting-anting, dan sebagainya harus diputar-putar atau lebih baik dilepaskan untuk memastikan tidak ada bagian tubuh yang tertutup olehnya sehingga tidak terkena air. Pusar dan telingan juga harus dicuci.

  6. Terakhir, kita tempatkan diri kita pada tempat yang bersih dan mencuci kaki kita apabila belum dicuci ketika berwudhu dan kemudian berpakaian sesegera mungkin. (Misykat)

  7. Tidak perlu mengulanngi mandi secara keseluruhan, jika setelah mandi ada bagian tubuh yang belum dibasahi, cukup dengan mencuci bagian yang masih kering itu saja.


Catatan : 
  • Tidak cukup hanya dengan mengusapkan tangan yang basah saja.
  • Kita tidak perlu berwudhu lagi apabila kita akan mengerjakan shalat walupun ketika sedang mandi bertelanjang.

Cantiknya Bidadari



Terheran-heran. Tapi itulah kenyataan. Seseorang – yang mungkin dengan mudahnya – melepas jilbabnya dan merasa enjoy mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan apa, kepuasan pribadi, materi dunia, popularitas yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tak terbelenggu.
Padahal… nun di surga sana, terdapat makhluk yang begitu cantik yang belum pernah seorang pun melihat ada makhluk secantik itu. Dan mereka sangat pemalu dan terjaga sehingga kecantikan mereka hanya dinikmati oleh suami-suami mereka di surga.
Berikut ini adalah kumpulan ayat dan hadits yang menceritakan tentang para bidadari surga.

Harumnya Bidadari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kecantikan Fisik
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (Qs. Ad-Dukhan: 54)
Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.

Al-Hasan berpendapat bahwa haura adalah wanita yang memiliki mata dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat hitam.
Sopan dan Pemalu

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu:
“Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58)

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Qs. Ash-Shaffat: 48)

“Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.”
Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa pandangan para bidadari surgawi hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.
Putihnya Bidadari

Allah Ta’ala berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. ar-Rahman: 58)

al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan seputih marjan.
Allah juga menyatakan,“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam kemah.” (Qs. Ar-Rahman: 72)

Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu. Mereka berada di dalam kemah.

Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang bidadari di surga. Karena bagaimanapun gambaran itu, maka manusia tidak akan bisa membayangkan sesuai rupa aslinya, karena sesuatu yang berada di surga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita lihat di dunia ini.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah mengetahui sifat fisik dan akhlak bidadari, maka bukan berarti bidadari lebih baik daripada wanita surga. Sesungguhnya wanita-wanita surga memiliki keutamaan yang sedemikian besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan lagi, seorang manusia telah Allah ciptakan dengan sebaik-baik rupa,
“Dan manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik rupa.” (Qs. At-Tiin: 4)
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)
Subhanallah. Betapa indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah perkataan yang seharusnya membuat kita, wanita dunia, menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menjadi wanita shalihah. Berusaha untuk menjadi sebaik-baik perhiasan. Berusaha dengan lebih keras untuk bisa menjadi wanita penghuni surga..
Nah, tinggal lagi, apakah kita mau berusaha menjadi salah satu dari wanita penghuni surga?

Penulis: Ummu Ziyad Fransiska Mustikawati dan Ummu Rumman Siti Fatimah
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar



Waktu-Waktu Ketika Disunnahkan Bersiwak


  1. Ketika akan membaca Al-Qur'an.
  2. Ketika akan membaca Hadits.
  3. Ketika mulut mengeluarkan bau tak sedap.
  4. Ketika akan belajar atau mengajar keutamaan-keutamaan Islam.
  5. Ketika akan Berdzikrullah.
  6. Sebelum melakukan hubungan suami istri.
  7. Setelah memasuki rumah.
  8. Sebelum menggabungkan diei kedalam suatu majelis yang baik.
  9. Ketika mengalami kepedihan diri karena lapar dan haus.
  10. Setelah tanda kematian nampak jelas.
  11. Ketika sahur.
  12. Sebelum makan.
  13. Sebelum memulai suatu perjalanan.
  14. Ketika kembali dari suatu perjalanan.
  15. Sebelum tidur.
  16. Ketika bangun tidur.

Berikut yang berhubungan dengan Siwak

Jangan Tangisi Apa yang Bukan Milikmu


Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa, Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai dan kenyataan yang tidak sesuai harapan.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat tergoncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis zikir yang akan mengembalikan ketenteraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak semua apa yang kita inginkan akan terbukti, 
tidak semua yang kita mahu akan tercapai. Dan tidak mudah juga untuk disedari bahawa apa yang bukan menjadi hak kita tidak perlu kita tangisi. Ramai orang tidak memahami bahawa hidup ini tidak hanya mempunyai satu hukum harus berjaya, harus bahagia atau harus yang lain-lain.

Betapa ramai orang yang berjaya tetapi lupa bahawa semuanya itu pemberian ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALAhingga membuat mereka sombong dan bertindak sewenang-wenangnya. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Hakikat kegagalan adalah tidak terkait dengan apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi milik kita di dunia, sama ada itu rezeki, jabatan atau kedudukan, pasti akan ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, tidak akan dapat kita miliki. Meskipun ia nyaris menghampiri kita, meskipun kita bermati-matian mengusahakannya.


Maka Lepaskan yang bukan Milik Kita dengan Ikhlas Hati yang Lapang

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (al-Hadiid: 22-23)

Demikian juga bagi yang sedang berkeinginan terhadap jodoh. Kadangkala kita tidak sedar ketentuan ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi ia sebenar-benarnya ketentuan ALLAH: 

Ada yang berdoa "yang pentingnya harus dia Ya ALLAH! Harus dia, kerana aku sangat mencintainya !!.

"Jadinya seakan-akan kita yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa.Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Boleh jadi ALLAH tidak menghulurkannya dengan kelembutan tapi melemparkannya dengan marah kerana niat kita yang terkotor.

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berpanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar difikirkan bahawa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevannya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Kerana seorang Mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya .. hidup di akhirat kelak.


Maka ya... sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu.........

(By.Mutiara Iman)